Iklan

terkini

CERPEN - Jejak Cinta di Ujung Waktu

Lidinews
Minggu, Maret 23, 2025 WIB Last Updated 2025-03-23T02:03:00Z
Karya : Arjuna H T Munthe

Gambar : CERPEN - Jejak Cinta di Ujung Waktu. (depositphotos.com)

Pagi itu, seperti biasa, Aulia datang lebih awal ke kampus. Di ruang kelas yang hampir kosong, dia duduk di salah satu sudut, menyendiri dengan tumpukan buku di hadapannya. Matanya sesekali melirik keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan kota yang masih diselimuti kabut tipis. Suasana itu memberi ketenangan yang jarang ia dapatkan di tengah rutinitas yang padat.

Aulia adalah seorang perempuan muda dengan kecantikan yang tak hanya tampak pada fisiknya, tetapi juga pada cara dia memandang dunia. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun, Aulia sudah menjadi sosok yang cerdas dan matang, baik dalam berpikir maupun dalam bertindak. Namun, di balik kecerdasannya, ada rasa kesepian yang kerap datang, seperti bayangan yang selalu mengikuti langkahnya.

Ia merasa hidupnya sudah teratur, namun ada satu hal yang tak bisa ia jelaskan: kehadiran seseorang yang selalu ada di dalam pikirannya. Itu bukan sekadar perasaan suka atau kekaguman, melainkan sesuatu yang lebih mendalam, yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari.

Kisah itu dimulai sejak setahun yang lalu, ketika Aulia bertemu dengan Reyhan, seorang pemuda yang baru pindah ke kampus mereka. Reyhan bukanlah tipe orang yang langsung menarik perhatian banyak orang dengan penampilan atau sikapnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan dalam cara dia berbicara, dalam cara dia mengamati dunia tanpa terburu-buru. Reyhan selalu tampak berada dalam dunia yang lebih dalam, dan itu membuat Aulia merasa tertarik, bahkan terpesona.

Namun, Aulia tahu bahwa perasaannya ini terlalu berisiko. Reyhan adalah teman sekelas yang menyenangkan, teman diskusi yang cerdas, dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda minat lebih dari sekadar persahabatan. Sejak awal, Aulia memutuskan untuk menjaga jarak emosional. Cinta, menurutnya, adalah sesuatu yang rumit dan kadang-kadang menyakitkan. Maka, dia memilih untuk menutupi perasaan itu dengan kebiasaan berbicara santai, tanpa membawa perasaan yang lebih dalam.

Hari itu, setelah kelas berakhir, Aulia berjalan menuju kafe kampus, tempat favoritnya untuk sekadar menyendiri sejenak. Saat dia duduk di pojok dekat jendela, seperti biasa, matanya tertuju pada layar ponsel yang penuh dengan notifikasi. Namun, tiba-tiba sebuah pesan masuk yang membuat dadanya terasa sesak.

"Aulia, bisa kita bicara sebentar? Aku butuh waktu untuk menjelaskan sesuatu." Pesan itu datang dari Reyhan.

Aulia terdiam. Sejak lama dia sudah mengenal cara berbicara Reyhan, yang tidak pernah mendesak dan selalu hati-hati. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam kata-kata Reyhan, sebuah ketegangan yang membuat Aulia merasa cemas.

Dia membalas pesan itu dengan cepat. "Tentu, Reyhan. Aku ada di kafe kampus, datang saja kalau kamu sudah selesai."

Tak lama setelah itu, Reyhan muncul, berjalan dengan langkah tenang, namun Aulia bisa melihat ekspresi di wajahnya yang lebih serius dari biasanya. Setelah duduk di depan Aulia, Reyhan menarik napas dalam-dalam.

"Aulia," katanya dengan suara yang lembut namun penuh arti, "Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Ada sesuatu yang ingin aku katakan, dan aku harap kamu bisa memahami."

Aulia merasakan ketegangan itu meresap ke dalam dirinya. "Apa yang ingin kamu katakan, Reyhan?" tanyanya dengan hati yang berdebar, berusaha menenangkan diri.

Reyhan menatapnya dalam-dalam, seolah mencari-cari kata yang tepat. "Aku tahu kita sudah lama berteman, dan aku sangat menghargai persahabatan kita. Tapi... aku merasa bahwa aku sudah mulai merasakan sesuatu yang lebih, Aulia."

Aulia terkejut. Dadanya terasa sesak. Apa yang Reyhan katakan benar-benar mengejutkannya. "Apa maksudmu?" tanya Aulia dengan suara yang sedikit bergetar.

Reyhan menghela napas panjang. "Aku tahu kita sudah banyak berbicara tentang berbagai hal, dan aku tidak ingin merusak hubungan kita. Tapi, perasaan ini... aku tidak bisa menahannya lagi. Aku rasa aku mulai jatuh cinta padamu, Aulia."

Aulia terdiam, lidahnya seolah kaku, tidak tahu harus berkata apa. Cinta. Perasaan yang selama ini dia pendam—seperti sebuah api yang menyala dalam diam—akhirnya terungkap, bukan hanya oleh dirinya, tetapi juga oleh Reyhan.

"Reyhan," Aulia berkata dengan hati yang berdebar, "Aku juga merasa ada yang berbeda antara kita. Tapi aku tidak ingin kita merusak apa yang sudah kita miliki. Kita sudah berteman begitu lama, dan aku takut perasaan ini akan membuat semuanya rumit."

Reyhan mengangguk, tetapi matanya tidak melepaskan pandangannya dari Aulia. "Aku tahu, Aulia. Aku tidak berharap kita harus segera membuat keputusan. Aku hanya ingin jujur padamu tentang apa yang aku rasakan. Aku tidak ingin menyimpan perasaan ini sendirian lagi."

Aulia menggigit bibirnya, berjuang melawan perasaan yang tiba-tiba memenuhi ruang hatinya. "Aku takut, Reyhan. Aku takut jika kita mencoba lebih dari sekadar teman, kita akan kehilangan semuanya. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita yang sudah begitu berarti."

Reyhan tersenyum kecil, senyum yang penuh pengertian. "Aku paham, Aulia. Kita tidak perlu terburu-buru. Cinta bukan tentang memaksakan diri, tetapi tentang menerima satu sama lain dengan segala kekurangan dan kelebihan. Jika kita memang dimaksudkan untuk lebih, waktu akan menunjukkan itu."

Aulia menatapnya, merasakan kehangatan yang berbeda dari sebelumnya. Ada sesuatu yang dalam dalam tatapan Reyhan—sesuatu yang membuatnya merasa lebih tenang, meskipun perasaannya begitu kacau. Mungkin mereka tidak perlu buru-buru untuk mencari jawabannya. Mungkin, mereka hanya perlu memberi waktu pada diri mereka untuk memahami apa yang mereka rasakan.

Setelah beberapa lama, Aulia akhirnya berkata, "Kita akan lihat, Reyhan. Aku ingin kita tetap jadi teman, apapun yang terjadi. Kalau nanti ada lebih, kita hadapi itu bersama-sama."

Reyhan mengangguk, senyum penuh harapan kembali terukir di wajahnya. "Aku setuju, Aulia. Terima kasih sudah mendengarkan. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi."

Hari itu, di kafe kampus yang sederhana, dua hati yang telah lama terjalin dalam persahabatan akhirnya mengakui adanya perasaan yang lebih. Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi mereka siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang datang, dengan kesabaran dan pengertian. Karena pada akhirnya, cinta yang sejati bukanlah tentang terburu-buru, tetapi tentang menjalani setiap langkah dengan keikhlasan dan keberanian untuk membuka hati.

Di ujung waktu, Aulia dan Reyhan menyadari bahwa kadang, cinta itu datang di saat yang tak terduga, dan mungkin, cinta sejati adalah tentang berjalan bersama tanpa harus terburu-buru menuju jawaban.

Komentar

Tampilkan

  • CERPEN - Jejak Cinta di Ujung Waktu
  • 0

Tidak ada komentar:

Terkini